Aku Membunuh Adikku
Menukar hari-hari lewat musik. Ehm, cukup bijak.
Saat usaha kita ternyata dianggap sia-sia oleh orang lain. Terlalu pedih untuk tidak kembali menyakiti. Ada waktu berharga yang ia curi. Tapi dengan santainya pula ia tampak ga’ peduli dengan semua itu. Waktu itulah dan tetap saat itulah kebencian mulai menggantikan rasa kasih di hati manusia. Begitulah mereka menyebut dendam. Dan sampai hari ini, beribu dendam terus menyelimuti hati manusia. Menutupi celah kasih perlahan-lahan hingga mereka mulai ga’ sadar bahwa manusia adalah makhluk lemah yang sangat butuh kasih sayang.
...
Rangkaian kata-kata itu tertulis begitu saja di buku Kika. Berulang kali dicobanya untuk meletakkan pencil kebanggaan hadiah dari kejuaraan menulisnya, namun keinginannya untuk berhenti menghujat dendam itu ga’ kunjung terhenti.
Dan gadis bernama Kika itu adalah aku. Seorang remaja yang selalu diselimuti rasa bersalah karena satu kata. DENDAM. Sikap diam papa yang menyiratkan dendam dan kemarahan membuatku ga’ pernah tenang. Kemarahan seseorang yang sangat kita kasihi ternyata amat menyakitkan.
Hening ...
Aku melihat air mata dipipimu
Saat itulah aku tahu
Ternyata hidup terlalu sulit
“Maafin kakak dek, kakak ga’ bermaksud bikin hidup kamu sesingkat ini. Kakak, kak...ka...cuma ga’ berfikir rasional. Kakak terlalu bodoh dan lemah buat mempertanggung jawabkan semua kejadian ini, ” isakku di tepi sebuah gundukan tanah yang masih merah dan penuh taburan bunga.
Pelan, kuusap nisan bertuliskan nama Kiko. Adik semata wayangku. Adik yang seharusnya kulindungi tapi aku justru membunuhnya. Dengan perbuatan yang aku tahu bakal bikin semua orang menghujatku. Aku kembali terduduk dan terisak pelan.
Isakan itu semakin pelan saat tiba-tiba tubuhku terjatuh lunglai ke gundukan merah yang mengubur Kiko. Semua gelap dan kepalaku terlalu pusing untuk menyadari kejadian ini.
Terlalu cepat
Kika, aku seorang anak yang dititipkan orang tuaku di sebuah panti asuhan. Eh... entah karena apa, yang jelas bayi merah itu kini telah menginjak remaja tanpa tahu siapa orang tua kandungnya.
Dari kecil aku biasa dihujat banyak orang. Mereka mengatakanku anak haram, anak terbuang, anak hina, pembawa sial bahkan hujatan panas lainnya yang aku sendiri ga’ ngerti apa yang mereka maksud. Tapi itu ga’ membuatku berhenti bersikap cuek dan tenang. Aku terlalu kuat untuk menangisi nasib. Ga’ setetes air mata pun untuk nasib burukku ini.
Sampai saat papa, ayah angkatku menghujatku di depan semua orang. Menampariku dengan kasar layaknya kucing yang telah memakan semeja hidangan. Tubuhku penuh luka lebam akibat pukulan jemari kekarnya.
Ini bukan salahnya. Ini salahku.
Aku membunuh kiko.
Dan kini aku ingin bertanya. ”Masih pantaskah aku dipanggil kakak? ”
Beberapa motor berdiri disebuah garis yang telah menjadi ujung jembatan maut setiap harinya. Yah... aku ada disitu. Diantara aungan motor-motor yang sudah dipastikan joki dan mekanik siap untuk meluncur. Siap bertanding dan siap setiap saat mengantarkan manusia-manusia bodoh itu ke neraka.Dimana salah satunya aku.
Entahlah, sejak kapan aku menyukai balap. Ikut kebut-kebutan di jalan raya yang rawan dan mempertaruhkan nyawa hanya demi beberapa lembar uang ratusan ribu. Kabur diam-diam setiap malam, belajar membohongi kedua orang tua angkatku demi hobiku ini.
Aku mengajak Kiko untuk ikut dipertarungan maut malam itu. Wajah teduhnya membuatku lebih yakin malam ini akan menang. Paling ga’ berada di posisi runer up. Seperti malam-malam sebelumnya saat aku juga mengajak Kiko. Adik kecilku.
Semua mulai menstarter motor-motor mereka, termasuk aku. Kepulan asap cukup membuat para penonton di pinggir trotoar terbatuk-batuk dan menutup hidung mereka. Kurasakan genggaman Kiko semakin kuat di pinggangku. Pelan, aku menoleh padanya.
“De, kamu takut? ”
Kiko menggeleng, tapi aku dapat merasakan debaran di dadanya semakin kuat.
“De, jangan takut. Kita udah sering ngelakuin inikan. Sayang kalo malam ini harus dikalahin sama Michael. Kakak pengen buktiin kalo balap bukan cuma buat cowok. Kebut-kebutan juga pantas buat cewek, ” paparku tenang.
Kiko tersenyum.”Aku akan pegang pinggang kakak kuat-kuat. Dan kita harus menang kan kak? ”
“Yap. Kita akan buktikan pada mereka bahwa kita bisa, ” ujarku sebelum akhirnya kembali menggas motorku.
Silau cahaya dari motor-motor yang sudah ga’ sabaran untuk meluncur itu membuat seorang pemberi tanda dimulainya pertandingan menutup matanya. Lalu ia membelakangi motor-motor itu sebelum akhirnya melepaskan satu tebakan ke udara tanda dimulainya pertandingan.
Wuss... .
Semua melesat cepat, diiringi tepukan penonton.
Dengan sangat nekat aku terus menaikkan kecepatan motorku. Pesan mekanik tentang keterbatasan kecepatan motor itu ga’ aku hiraukan.Yang jelas saat ini aku melihat semua wajah-wajah orang yang menghujatku itu berdiri dihadapanku. Siap mengejekku.
Kecepatan terus kutingkatkan. Bahkan di bengkolan pertama motor kami hampir jatuh dan menyentuh aspal sudut jalan yang masih belum sempurna.
Saat itu aku merasakan genggaman Kiko semakin kuat dan debaran di dadanya semakin kencang.
Terlambat aku menyadari kegilaan itu. Saat sebuah truk bongkar muat dengan kecepatan tinggi meluncur menuju arahku yang berlawanan. Aku ingin menghindar, atau paling ga’ menyelinap diantara truk itu dan pembatas jalan. Tapi... .
Motorku menabrak sudut kanan truk. Terseret ke sudut jalan dan Kiko terlempar cukup jauh dariku yang terhimpit tubuh motor. Aku sempat melihat tubuh mungil itu terpental beberapa kali sebelum wajahnya berlumuran darah mendarat di aspal. Dan aku, igaku rasanya patah. Kakiku sangat sakit.
Tanganku ingin menggapai tangan Kiko. Tapi aku tak punya cukup tenaga. Aku terlalu lemas dan benar-benar ga’ berdaya pada saat-saat seperti ini.
Petugas ambulans akhirnya datang. Entah siapa yang menghubungi mereka. Yang jelas sayupku dengar percakapan mereka yng sibuk menyelamatkan Kiko.
“Pendarahan otak. Terlalu banyak kehilangan darah. ”
“Sudah tak tertolong. ”
Kikoku... , apa itu berarti?
Ini pemakaman Kiko. Ini hari terburuk saat tanganku membunuh adikku sendiri. Saat aku menumbuhkan dendam di hati semua orang padaku. Saat hujatan itu bukanya berkurang malah semakin banyak dan terlau banyak. Aku ga’ sanggup.
Kenangan bahagia itu kembali menores lebih dalam lukaku. Saat pasangan Pak Darmawan dan istrinya sangat bahagia mengajakku tinggal bersama mereka karena sampai tahun ke 5 pernikahan mereka ga’ seorang anak pun dipercayakan Tuhan pada mereka. Dan kasih sayang itu terlalu berharga.
Kiko, ia lahir setelah 2 tahun aku mendapatkan kasih berlebihan dari kedua orang tua angkatku. Bocah kecil yang tiba-tiba sangat menyita hatiku untuk selalu menyayanginya.
Tapi aku telah membunuh Kiko dengan tanganku. Ia dibunuh orang yang mengaku sangat mencintainya, sangat dan amat sangat menyayanginya. Mama pun terkena serangan jantung saat mendengar kabar kematian anak semata wayangnya. Wanita mulia itu sukses kubuat koma sampai hari ini. Dan aku tak tahu entah sampai kapan.
Semua mata di pemakaman itu menyambarku tajam. Penuh kebencian. Dan aku tahu itu.
Saat tiba-tiba tubuhku bergoncang hebat dan terduduk penuh isak di tepi makam Kiko.
“Aku membunuh adikku..., ” aku terus mengulang kata-kata itu hingga ga’ sadar ini sudah malam, pagi lagi, gelap lagi dan terik lagi.
Tak ada yang memperdulikanku. Tubuh kurus yang terduduk di pemakaman dan terus bergumam sambil sekali-sekali tersenyum dan menangis dengan kata-kata itu.
“Aku membunuh adikku... . ”
Jam Kesenian
XI IPA 3 smanda


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda