Mozaik Love and Life of Dreamers

Kita cuma butuh satu cinta untuk membuat kita memiliki cinta-cinta yang lain......... Cinta itu adalah cinta Ilahi........

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Bukittinggi _ to _ Jakarta Selatan, Sumatera Barat _ Jakarta, Indonesia

Mahasiswa Program Studi Psikologi Univeritas Paramadina ini kini sedang mengenyam pendidikannya di semester 4. Memiliki keinginan untuk memahami dan mengikuti jejak para pemprakarsa psikologi islam di Indonesia. Untuk saat ini masih berupaya berkontribusi lewat blog. Semoga ke depannya bisa berperan lebih aktif.

Rabu, 30 Juli 2008

Cerpen:...Klimaks Cinta Semu

Sore yang cerah ini ga’ ikut menggambarkan perasaan hatiku yang masih galau. Apalagi? Yah... kalau bukan karena pangeran cinta kesiangan itu, pasti hari ini aku bisa ikut les fikimbioma. Dia cuma akan membuat hari-hari menyenangkan yang seharusnya kulalui penuh tawa dan canda bersama teman-temanku terlewatkan begitu saja. Karena cowok yang ngakunya cinta berat padaku itu bela-belain menungguku pulang dari les cuma buat bilang. I still love you. Gila.

Apa dia sudah ga’ waras lagi? Umpatku emosi.

Aku mendesah pelan dan menatap jauh keluar jendela. Ikut menelusuri jejak persimpangan jalan lewat jendela khayalku. Mimpi buruk yang pernah jadi kenyataan

“Ngelamun lagi Lin? ” Mbak Putri menepuk halus bahuku, adik bungsunya.

Aku tak merespon apa-apa.

“Masih mikirin masalah kemaren? Tommi kan? ” tebaknya seperti benar-benar paham apa yang kini sedang kupikirkan.

“Aku mesti gimana mbak? Padahal aku sudah mati-matian bilang kalau aku ga’mau, ga’suka, ” ujarku lirih.

Seperti biasanya. Mbak Putri mencoba menggodaku. “Ga’ suka apa ga’ mau? ” ulangnya memastikan.

Aku menatap mbak Putri sambil cemberut. Mbak Putri yang dapat jawaban gitu langsung ketawa jahil alias ngikik.

“Mbak...!! Aku kan udah bilang kalau aku bakalan konsekuen sama agama. Aku ga’ mau lagi pacaran kayak dulu. Banyakan ga’ enaknya plus bejibun mudharatnya. ”

“Bener? Kok kayaknya mbak ga’ yakin sama ucapan kamu yang barusan, ” Mbak Putri masih mencoba menggodaku.

“Tau..., ” jawabku malas.

Mbak Putri mengacak-acak kerudung instanku. Tapi dasar. Kalau aku udah marah susah banget dibujuknya.

“Lin, jangan marah gitu dong! ”

“Habis mbak nanyanya yang ga’-ga’ sih, ” rajukku dengan wajah mulai luluh.

Mbak Putri tersenyum lega.

“Tapi mbak serius Lin. Apa kamu bener-bener ga’ suka lagi sama mantan pacarmu itu? Katanya kalian pasangan paling heboh tahun lalu, ” tanya Mbak Putri memastikan masih dengan wajah cengengesannya.

“Ga’ tahu deh mbak. Tapi entah kenapa aku bener-bener ingin jadi muslimah kaffah. Selama ini aku udah terlalu bandel dan ga’ tahu aturan. Bahkan sering ngelawan sama ayah. Rasanya dosaku udah terlalu banyak, ” jawabku pelan.

Begitulah aku. Ikut-ikutan sama budaya sono yang ga’ satu jalur sama ajaran agama. Dulu aku sering ngebantah nasihat Mbak Putri dan Mas Dimbo. Kedua kakak yang selalu mencemaskanku. Selain itu aku sukses membuat ayah panik dengan kejahilan-kejahilanku.

“Mbak ngerti. Tapi jangan sampai kamu membenci sesama muslim. Dia juga saudara kita, seiman. Cuma, pengetahuannya soal agama barangkali masih dangkal.”

Aku mengangguk pelan.

“Tapi mbak liat dari cara bicaramu tadi, kamu masih sukakan sama Tommi, ” goda Mbak Putri lagi.

“Entahlah. Yang jelas aku ga’mau lagi kayak dulu. Aku ingin berubah. ”

Mbak Putri menatapku yakin. Aku tahu Mbak Putri hanya mencoba mengujiku. Pasalnya mbakku satu-satunya ini the high quality jomblo sejati alias muslimah sejati.

“Oh ya, Lin. Bukannya sekarang kamu ada jadwal privat? ” tanya Mbak Putri selidik.

“Takut mbak. Habis kemaren Tommi nungguin aku pas bubaran les. Aku kan jadi malu sama teman-teman, ” jawabku sedikit berbisik.

“Ya udah. Besok biar Mas Dimbo nganterin dan jemput kamu. Biar dia ga’ berani gangguin lagi, ” tanggap Mbak Putri bijak.

*

Tommi berdiri di sudut mejaku. Aku hanya bisa nunduk, diam, dan ga’ tau mau bilang apa sama orang yang satu ini. Udah dibilang aku ga’ mau balik, eh... makin gencar dia ngejar aku.

“Lin, gw pengen loe jawab pertanyaan ini dengan jujur. Loe masih sayang ke gw kan? ” cowok itu menatapku penuh harap.

Aku masih sibuk merapikan buku-bukuku setelah jam terakhir di kelas yang melelahkan. Ya Allah, jauhkanlah hamba dari godaan syaitan yang terkutuk, bisikku membatin.

“Gw udah bilang kalo gw ga’ mau, ” jawabku terdengar sangat pasti.

Kalimat itu keluar tanpa menatap cowok itu sekilas pun. Dan aku masih sibuk dengan buku-bukuku.

“Loe pasti bohong Lin. Gw tahu loe pasti masih sayang ke gw. ”

“Gw sayang sama loe? Kalaupun iya, itu cuma karena kita saudara seagama, seaqidah. Bukan seperti dulu. Dan gw ga’ mau ngulangin kesalahan itu untuk kedua kalinya, ” kali ini suaraku terdengar sedikit tertahan.

“Kenapa sih Lin? Sejak loe pake jilbab, gabung sama anak-anak kajian, loe ga’ kayak dulu lagi. Loe ga’ pernah bersikap manis lagi. Loe berubah, ” ujarnya menudingku.

“Jangan pernah menuding jilbab ini Tommi. Gw berubah karena keinginan gw sendiri, karena Allah. Gw cuma usaha jadi lebih baik. Bukan seperti dulu yang gw pengen. Karena sekarang gw udah nemuin cinta yang lebih hakiki, ” suaraku mulai tegang.

Tommi menarik nafas pelan dan... .Ah, benar-benar gila anak itu. Dia berlutut di depanku. Ya Allah, ampuni hamba karena hamba Mu yang lain telah terbutakan cinta semu akibat hamba lemah ini.

“Gw akan berdiri kalau loe nerima kita baikan lagi, ” ujarnya pelan.

“Sebaiknya loe segera berdiri Tom. Karena gw ga’ akan menggadaikan cinta hakiki ini untuk cinta semu yang pernah membutakan kita. ”

Aku melangkah menuju pintu keluar. Berjalan bersama keheningan siang yang masih menyimpan berjuta kenangan cinta semu beribu anak manusia yang pernah ada.

Inilah cara tuhan mengirimkan hidayah-Nya padaku. Lewat kesalahan fatal yang dilakukan orang yang saat itu sangat aku cintai. Meletakkan sosok terindahnya direlung terdalam di hatiku tanpa sadar bahwa ada orang lain yang seharusnya dapat tepat itu.

Eh... awal kelas 1 di SMA yang sangat kuinginkan benar-benar berkesan. Saat aku yang terbilang jahil ga’ tahan dengan gaya kakak-kakak senior yang sok angkuh, inisiatif nakalku mengajak untuk mengerjai mereka. Alhasil aku diangap salah satu dari 10 junior yang patut “disidang” habis-habisan, termasuk salah satu diantaranya Tommi.

Bisa dibayangkan bagaimana merah padamnya muka para senior waktu aku berhasil menyelipkan tikus putih yang kubawa dari rumah ke dalam tas mereka satu persatu. Padahal 3 jam sudah aku dan 9 orang junior lainnya yang juga jahil disidang.

Ternyata aku ga’ sendirian. Ada seorang junior lain yang juga masih ampun-ampunan nakalnya sepertiku. Tommi. Sedikit, banyak aku ngerasa punya teman sehobi. Usil.

Hal itu berlangsung lebih akrab saat kami dihukum bersama hari berikutnya. Sungguh hukuman konyol yang pernah kuterima dari orang-orang yang hanya 1 atau 2 tahun lebih duluan nongol di dunia ini. Berdiri kaki satu dan hormat kesang saka merah putih selama 2 jam ditengah siang yang terik. Hanya kami berdua. Dan puluhan senyum miring teman-teman yang namanya pun tak begitu akrab denganku terus terlihat hingga hukuman itu berakhir.

Akhirnya kami menjadi begitu akrab. Dan paling sulit untuk dipisahkan. Guru mana yang ga’ kenal 2 sejoli jahil Lina dan Tommi. Begitulah hingga akhirnya aku merasa nyaman bersama Tommi dan sebaliknya, ujung-ujungnya saling suka dan pacaran. Pasangan yang sangat membuat iri 3 angkatan Taruna Jaya. Pasangan heboh dan teraneh yang sangat nyaman untuk dijadikan contoh ratusan murid Taruna Jaya.

Awal jurang cinta semu yang sangat mahal obat penawarnya. Cinta dan klimaks kami... .

*

Rentetan fhoto-fhoto tragis itu cukup membuatku mengingat semuanya. Beberapa fhoto yang pernah mengabadikan kesalahanku dengan Tommi. Kenangan buruk yang hanya terus mengusik batinku. ”Akankah kita temukan pasangan seindah ini lagi?” Sebuah tulisan mewakili fhoto-fhoto sial itu. Saat hidayah itu belum memanggilku.

Sore itu aku memergoki Tommi jalan dengan anak kelas sebelah. Cewek yang aku akui sangat cantik untuk ukuran gadis seumuranku. Parasnya yang ayu, tinggi semapai dengan rambut yang panjang menawan. Entah kenapa aku panas dan jadi benar-benar cemburu. Tanpa pikir panjang aku menghampiri mereka. Melesat cepat tanganku menampar Tommi. Tak sedikitpun suara Tommi yang berharap dapat memberiku penjelasan kudengar.

Aku begitu kecewa.

Aku merasa begitu bodoh.

Aku terlalu menaruh hati pada cowok itu sehingga aku benar-benar terluka.

Tapi lihat yang ia lakukan padaku! Berkhianat.

Sejak saat itu aku lari dari semua rutinitas yang mengingatkanku pada keakraban kami. Aku meninggalkan kejahilan-kejahilanku yang hampir mendarah daging. Kekecewaan itu membuatku jadi lebih pendiam. Aku juga keluar dari club basket. Menghindar dari ekskul pencinta alam dan mengundurkan diri dari dewan kelas.

Sial. Dia membuatku benar-benar ga’ ingin lagi percaya pada siapapun. Ga’ seorang pun waktu itu yang ingin ku percayai selain Mbak Putri. Dengan sabar ia terus menasehatiku. Menceritakan apa saja yang bisa memancing senyumku lagi. Dia yang mengajakku dengan mudah mengenal agama. Padahal dulu tak sedetik pun aku berfikir tentang Tuhan. Mungkin juga karena aku mulai bosan tak berkegiatan. Hingga aku memutuskan untuk rutin liqo’ dan ikut kegiatan-kegiatan ROHIS sekolah. Aku berani ikut ekskul ini karena aku tahu dan yakin ga’ akan bertemu Tommi diekskul sakral ini.

Hebatnya mereka para pengurus ekskul yang kukira sangat membosankan ini membuatku akhirnya melupakan semuanya. Biasanya jam istirahat aku nongkrong di kantin dengan Tommi. Tapi kini aku justru nongkrong di Mushala untuk shalat dhuha dengan wajah-wajah teduh sahabat baruku.

Ini dunia yang indah.

Sebelum Tommi kembali muncul dihariku.

Dibenakku.

Dan di mading ini.

Kulirik sebuh batu yang tersenyum manis menatapku. Sebuah batu intifada yang ingin ikut berjuang denganku. Tanpa pikir panjang kuraih batu sekepalan tinju itu dan menghantamkannya pada kaca-kaca mading.

Brak... .

Beberapa orang siswa hanya bisa tertengun melihat reaksiku. Apalagi ada seorang pengurus mading yang ternyata tak jauh dariku. Mereka hanya bisa menelan ludah bersamaan dengan dendam yang mulai tumbuh di jaringan dan selku.

“Lina! Apa-apaan kamu. Kamu sudah merusak aset sekolah, ” seorang guru BP yang entah darimana tahu kejadian ini datang menudingku marah.

“Tapi mereka memasang berita yang tak menyenangkan tentang saya buk, ” ujarku membela diri.

“Sudah! Ceritakan saja nanti di kantor, ” Bu Mita, begitu kami memanggilnya, menarikku menelusuri lorong-lorong menuju kantor kepala sekolah.

Ya Allah. Apa yang harus aku lakukan. Ternyata mudharat itu belum berakhir. Mudharat yang berawal dari cinta semuku.

“Tapi saya hanya ingin membela diri pak. Apa itu salah? ” tanyaku masih ga’ mengerti dengan keputusan kepala sekolah yang tak adil menurutku itu.

“Bukan begitu caranya membela diri. Seharusnya kamu membicarakan hal ini dengan pengurus mading. Bukan dengan memecahkan kaca mading, ” kepala sekolah menasehatiku tegas.

Tiba-tiba pintu terkuak. Yah... orang itu. Dia yang membuatku di sini bersama kesalahan selama ini. Tommi.

“Duduk! “

“Apa maksudmu menempelkan fhoto-fhoto itu? ”guru BP menatap Tommi tajam.

Cowok itu malah tersenyum kearahku. Ya Allah ini benar-benar kelewatan. Apa cinta semu itu bisa menghancurkan hidupku perlahan seperti puluhan jiwa pencandu rokok yang telah direngut nyawanya oleh sahabatnya sendiri. Rokok.

“Saya hanya mencoba menyadarkan seseorang pak, ” jawabnya santai.

Aku hanya bisa mendesah pelan. Ya Allah kapan mimpi buruk ini berakhir?

“Saya mau kalian membawa orang tua masing-masing ke sekolah besok. Atau kalian akan dikeluarkan, ” keputusan terakhir kepala sekolah itu seperti tumpukan besi yang menimpa kepalaku.

Padahal aku tak ingin ayah tahu aku membuat masalah lagi. Sudah cukup selama ini.

*

“Mbak, mereka memasang fhoto-fhotoku di mading. Apa aku salah membela diri. Kenapa banyak orang menghalangiku untuk berubah? “ Aku mulai terisak dihadapan Mbak Putri.

“Sudah Lin, Mbak tahu gimana perasaan kamu sekarang. Ini ujian dari Allah. Apa kamu benar-benar ingin berubah atau cuma main-main. Seharusnya kamu bersyukur atas perhatian Allah yang berlebih padamu. Allah mengujimu, tanda Ia sayang, ” Mbak Putri mengusap kepalaku berkali-kali.

Aku masih larut dalam isakanku. Entahlah apa namanya. Bahagia, sedih, atau malu. Bahagia karena Allah sayang padaku. Sedih karena dosa-dosaku selama ini dan malu dengan masa lalu.

“Aku membawa surat panggilan untuk ayah mbak, ” ujarku pelan sambil menyodorkan sebuah amplop.

Mbak Putri meraihnya.

“Aku harus gimana Mbak? Ayah pasti kecewa. Walaupun selama ini aku selalu membuat ayah sedih tapi ayah tak seharusnya terus aku bebani dengan masalah-masalahku... . ”

“Jangan bicara gitu Lin. Ingat! ini cobaan. Lalui dengan sabar. Allah sangat sayang pada orang-orang yang bersabar atas ujian-Nya. ”

Aku mengusap air mataku.

“Apa aku kelihatan tegar Mbak? ” tanyaku dengan suara yang sudah mulai normal.

Mbak Putri tersenyum tipis.

*

Pagi ini ayah dan Mas Dimbo datang ke sekolah. Pastinya karena surat itu. Ya Allah semoga tak terjadi hal-hal yang buruk, bisikku membatin.

Setelah mengetuk pintu ruang kepsek, ayah masuk ke ruangan itu. Dua sosok yang sudah tak asing lagi buatku menatap tak pasti. Tommi dan mamanya. Yah... aku mengenal wanita itu saat kami masih pacaran. Wanita yang tiba-tiba sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Begitu cocok menggantikan mama yang telah meninggalkanku 5 tahun yang lalu.

Tapi sekarang entah apa yang akan beliau fikirkan tentang aku yang dulu sangat dikaguminya.

Karena cinta semu itu aku harus begini. Mendekap dalam kesalahan yang selalu membayang-banyangi hijrahku untuk jadi seorang muslimah sejati. Kenapa aku harus bertemu Tommi lalu baru Engkau pertemukan dengan cinta agung-Mu? Kenapa tidak langsung Engkau dekatkan hatiku pada-Mu? Kenapa harus saat aku kecewa pada makhluk-Mu yang dulu sangat ku cintai? Kenapa?

Kenapa?

Dan kenapa harus begini?

Aku tertunduk dalam.

“Silahkan pak, ” ujar kepsek mempersilahkan ayah untuk duduk.

“Langsung pada permasalahnya ya pak, bu. Saya rasa kenakalan anak-anak kita ini kelewatan. Karena walaupun ini kelihatannya sepele tapi jika setiap anak dibiarkan merusak aset-aset sekolah, bisa-bisa budaya baru akan tumbuh pada jiwa anak-anak kita untuk melampiaskan kemarahan mereka pada benda-benda yang seharusnya dijaga. Contohnya ya... mading sekolah, ” terang kepala sekolah panjang lebar.

Gemuruh dalam hatiku mulai menderu. Jantungku berdetak lebih kencang.

“Pihak sekolah memutuskan untuk men-skors kedua anak kita ini selama 2 minggu. Jadi kami mohon kerja samanya untuk mengawasi mereka, ” akhirnya hukuman itu terucap juga dari kepsek.

Kulirik ayah yang sepertinya sangat tenang mendengarkan keputusan itu. Ini bukan kali pertama aku di skors. Tapi mungkin sudah yang kelima kalinya atau lebih dari itu. Aku juga ga’ terlalu ingat berapa kali aku masuk ke kantor kepsek dan menerima hukuman semacam ini. Apa mungkin ayah merasa sudah biasa mendengarkan aku di skors. Atau karakterku yang berusaha ayah mengerti hingga ga’ ada satu hukuman pun yang bisa membuatku jera selain ini.

Entah kenapa kali ini aku merasa sangat menyakiti ayah. Padahal dulu aku sangat sering melakukannya. Hukuman dengan jenis apapun pernah aku rasakan. Tapi ga’ sedikit pun aku memikirkan perasaan ayah. Orang yang seharusnya aku muliakan dan sayangi. Perasaan itu justru baru muncul sekarang.

Mas Dimbo membisikkan sesuatu ke telingaku, ”Jangan perihatkan pada Tommi kalo kamu ngerasa sangat terpukul dengan hal ini. Bersikaplah seperti biasanya. Itu akan lebih baik daripada ia merasa menang telah membuatmu begini. ”

Aku mengangguk pelan.

Meskipun biasanya tiap diskors aku selalu membantah kata-kata kepala sekolah. Tapi kali ini aku lebih tenang.

Apa yang disarankan Mas Dimbo memang benar. Dua tahun aku mengenal Tommi cukup membuatku faham saat ini ia dalam keadaan yang sangat geram. Mungkin padaku dan sepertinya memang padaku.

*

Mading adalah kejadian pertama yang membuatku urut dada. Setelah itu Tommi masih saja menerorku dengan cara yang berbeda. Mencuri kotak bekal makan siangku, menuduhku melakukan hal yang tidak kulakukan untuk menutupi kesalahannya, dan menaruh lem dibangkuku. Ga’ sulit baginya untuk membuatku terjahili. Bagaimana mungkin seorang Tommi si raja super jahil bingung karena kehabisan bahan.

Kemaren ia sukses membuatku dimarahi habis-habisan oleh guru Bahasa Indonesia kesayanganku karena dianggap telah mengerjai guru ayu itu. Semua orang juga tahu jika ada yang menaruh tikus atau kodok di gelas guru pasti itu adalah kerjaan Tommi atau aku. Aku yakin yang menaruhnya kali ini Tommi, tapi ia membuatku terpojok dengan tidak mengaku dan membiarkan teman-temannya memberikan kesaksian palsu. Mereka bilang ada yang melihatku melakukannya.

Belum lagi saat Pak Zulfikar menerangkan pelajaran fisika. Tiba-tiba Tommi melayangkan sebuah karet gelang tepat kearah pantat guru temperamental itu. Saat beliau berbalik, Tommi spontan menuduhku yang melakukannya. Dan siapa yang akan berani menggugatnya. Hanya orang yang benar-benar yakin mampu menahan diri dari Tommi. Dan itu ga’ banyak. Salah satunya aku yang kali ini sedang ga’ mood buat membalas kejahilannya.

Dua hari yang lalu ia sukses membuat maagku kambuh karena ga’ makan siang saat harus ikut belajar sore. Sebenarnya aku bisa makan di kantin. Tapi terlambat. Semua makanan sudah habis terjual kecuali makanan ringan. Mana mungkin aku mengganjal perutku yang sudah terkena maag terbilang parah dengan itu. Dan ia dengan tanpa rasa bersalah menyembunyikan kotak makananku. Dalam benaknya mungkin ia hanya berfikir untuk mengerjaiku. Tapi ia sukses membuatku menginap di rumah sakit hari itu karena aku sampai muntah berkali-kali dan rasa mual menggerogotiku tanpa ampun. Untung besoknya aku bisa sekolah lagi. Itupun karena aku paksa Mbak Putri untuk minta izin pada dokter.

Dijahili buatku adalah hal yang biasa. Karena dulupun aku rajin menjahili orang lain. Trik mana yang ga’ aku tahu dari kejahilan-kejahilan Tommi. Semuanya aku hafal. Kecuali saat ia tega-teganya nyuri kotak nasiku dijam makan siang. Padahal ia tahu aku sangat ga’ mungkin harus membiarkan lambungku terus terkikis oleh asam-asam yang bekerja terlalu aktif menghasilkan enzim pencerna makanan. Dan dulu ia sangat senang mengingatkanku untuk ga’ terlambat makan.

Miris banget rasanya. Karena tiba-tiba orang yang dulu sangat perhatian pada kita tiba-tiba berubah menjadi begitu kasar. Perasaan ini juga muncul saat aku nampar Tommi. Mungkin dia juga kecewa padaku yang tiba-tiba berubah ga’ memperdulikannya.

Aku akui, aku masih sangat menyayanginya. Melupakannya sama saja dengan membiarkan hidup dan pengorbananku selama dua tahun sia-sia. Dia ternyata begitu berharga buatku. Bahkan sampai saat ini. Tapi entah mengapa kekasaranya membuatku terus gencar meminta pada Allah untuk menunjukinya seperti memanggilku pada cinta itu.

Pelan aku ngerasain cintaku ke Rabb udah dicampuri cinta yang lain. Cintaku rasanya mulai ga’ utuh lagi saat pertama aku mengenal cinta hakiki Rabbi. Sayangku pun rasanya mulai tercemar dengan rasa-rasa rindu yang membludak di hatiku.

Ya Rab, kenapa aku harus dihadapkan pada keadaan seperti ini? Belajar untuk membenci apa yang dulu aku sangat sayangi. Kejahilanku, blak-blakannya aku, dan Tommi.

Aku bingung untuk terus menata hati agar ga’ sedikitpun cinta makhluk merusak cintaku padaNya. Tapi ga’ bisa. Aku cuma hamba lemah yang terus berusaha dan berharap Tuhan mau membimbingku selalu.

Bersedihlah jika itu membuatmu ngerasa lebih dekat dengan Rabbi. Karena Rab akan melihat seberapa kuat engkau berusaha untuk mendekatinya. Seberapa tangguh engkau menjadi hamba-Nya.

Kesayangan...ga’ pernah menyakiti pemiliknya. Bahkan sebentar saja....

*

“Mbak aku ingin pindah dari Taruna, ” ujarku mengagetkan Mbak Putri.

Ia menatapku lekat.

“Lin, apa itu akan membuatmu jauh dari masalah? Bukan berarti dengan ngambil keputusan itu kamu bakal jadi lebih baik. Lari dari masalah bukan solusi buat kamu Lin,” Mbak Putri berusaha membiarkanku mencerna kalimatnya barusan.

Lari dari masalah?

Aku hanya berharap jauh dari Tommi yang terus menggoyahkanku. Hanya itu. Karena berada terus di dekatnya membuatku rindu gombalan-gombalan garingnya. Rindu membiarkannya masuk ke hatiku. Dan itu membuatku ga’ nyaman dengan keakraban baruku. Aku ngerasa harus milih.

“Mbak aku ngerasa dihadapin sama dua pilihan. Antara membiarkan cinta ku dan Tommi terus ada walaupun kami ga’ bersama lagi atau mengumpulkan tenagaku untuk berani membunuh rasa itu satu persatu demi mengutuhkan cintaku pada Rabb. ”

“Dan Mbak yakin. Kamu akan memilih sesuatu yang menjanjikan lebih kekal. Dua tahun itu ga’ seberapa dibandingkan pilihan terbaikmu Lin, ” saran Mbak Putri bijak.

Aku kembali terdiam.

Kadang aku bertanya-tanya. Kenapa Tommi masih saja selalu ada dihatiku. Kenapa? Kenapa Rabb ga’ langsung saja membuatku membencinya dan berpaling seutuhnya pada cinta yang hakiki. Kenapa harus menutup rapat hatiku untuk mengeluarkannya.

Mungkin dulu aku belajar Islam karena rasa kecewaku atas penghianatan Tommi. Tapi itu lebih baik daripada aku ga’ sama sekali dipilih Tuhan untuk mengingatnya.

Cukup bagiku jawaban itu. Tuhan sangat sayang padaku. Hingga ga’ seorang pun mampu membuatku bangun dari mimpi ini kecuali kehendak-Nya. Cukup bagiku membiarkan perasaanku terus merasakan sesuatu yang sia-sia. Dan kini aku putuskan untuk membiarkan semuanya berjalan seperti apa yang semestinya terjadi. Tanpa harus ada yang lari dari apapun dan kapanpun.

“Apa Mbak yakin aku bisa bertahan? ” kali ini aku hanya butuh dukungan dari orang terdekatku.

“Mbak tahu, pantang buat kamu untuk menyerah. Dan kamu lebih suka memanfaatkan kekuatan dirimu buat berfikir panjang dan matang. Itu cukup membuat Mbak yakin kamu akan bertahan, ” jawab Mbak Putri tegas.

Wuss... .

Aku ngerasa lebih baik.

Aku mulai memikirkan hal baru yang kenapa ga’ dari dulu aku pikirkan, sesalku. Tapi belum terlambat.

*

Hari ini aku ngerelain beberapa menit jam kimia yang nangkring di jam ketiga dan keempat sebelum istirahat hilang. Bukannya mau ngapa-ngapain. Aku cuma ingin shalat dhuha lebih awal. Dan ngejalanin misiku di jam istirahat nanti.

Selesai dhuha yang hanya kudirikan 2 rakaat dengan surat As-Syams di rakaat pertamanya dan Ad-Dhuha dirakaat keduanya, aku berdo’a.

Ya Allah, luruskan niatku dan lindungilah aku selalu dalam hidupku dan matiku. Dalam sadar dan silapku. Dalam sedih dan bahagiaku. Dalam bimbang dan yakinku. Dalam naungan indah cintaMu yang Agung, ilahi Rabbi. Aamiin.

Jam istirahat aku duduk di kafe dan mesan makanan dengan menu yang sama saat masih bareng Tommi. Nasi goreng, tanpa slada dan telur tapi kerupuknya yang banyak. Kalo biasanya aku mesan ini dua, tapi kali ini hanya satu.

Seperti dugaanku. Tommi akan ke kantin bareng ganknya (yang dulu termasuk aku). Saat menemukan sosokku diantara pegunjung kantin ia jelas kaget dan spontan menghampiriku.

“Udah lama loe ga’ nongkrong di sini. Ada angin apa tiba-tiba nongol lagi? ” ujarnya jelas penasaran.

“Lagi pengen aja. Ga’ boleh? ” kubalas kata-katanya dengan santai seperti ga’ pernah terjadi apa-apa diantara kami.

Mendapatkan jawaban begitu kikuk juga Tommi. Dulu ia paling ga’ bisa sehari aja ngeliat aku belagak ga’ nganggep dia pacar. Apalagi di depan anak-anak gank yang kuanggap sama rata dengan cara cuekku padanya.

“Loe beda ya sekarang. Biar gw jahilin kayak apa loe ga’ pernah bales. Biasanya kan loe paling ga’ suka ngalah sama gw. Kayaknya hidup loe lebih tenang akhir-akhir ini,” akunya jujur.

Deg...

Ini gombalan Lin, bisikku.

Aku mengatur hati dan lebih banyak berharap perlindungan dari Tuhan.

“Loe tertarik? ”tanyaku lepas.

Spontan dahi Tommi berkerut.

“Maksud loe ikut kajian? ” tanyanya seperti menyepelekan rutinitas baruku.

“Ga’, ” jawabku membuatnya sedikit punya harapan aku akan memberikan jawaban yang lebih logis menurutnya.

“Loe inget Micky kan? Pentolan pencinta alam kelas 3 IPA 4? ” kali ini aku membuatnya sedikit berfikir. Pasalnya anak-anak yang tertarik dengan ekskul ini cukup banyak, pengambilan anggota pun ga’ terbatas.

“Micky yang suka jadi imam kalo kita lagi kemahan? ”

“Yap..., loe musti sering-sering tukar fikiran blak-blakan gini sama dia. Yah...gw rasa dengan punya teman unik kayak Micky loe bakal sedikit ngerasa lebih tenang, ” ujarku sambil terus melahap nasi goreng yang tinggal hanya beberapa suapan lagi.

“Ok, gw coba. Tapi apa untungnya gw ngikutin saran loe? ”

“Paling ga’ buat ngebuktiin kata-kata gw. Ga’ susahkan buat loe akrab dengan seseorang, ” jawabku meyakinkan.

Hampir saja aku membiarkan Tommi terus menatapku. Sebelum itu berlangsung lebih lama, aku pamit mau ke toilet dan mesti ninggalin kantin.

“Sorry ya Lin. Waktu loe masuk rumah sakit itu gw ga’ maksud bikin loe kayak gitu,” ujarnya sebelum aku pergi.

“Ga’ apa-apa. Gw udah maafin,” jawabku singkat.”Gw duluan,” tambahku setelah membayar semua makanan yang kulahap dan benar-benar meninggalkan kantin.

*

Micky, dia sebenarnya adalah anak ROHIS yang diselipkan secara ga’ disadari ke ekskul pencinta alam. Amanah untuk berdakwah membuat ROHIS lebih kreatif dengan “menyelundupkan” beberapa orang kesetiap ekskul di Taruna. Jadi, dakwah bakalan lebih efektif.

Alhasil memang sampai saat ini, apa yang diharakan terwujud. Anak-anak pencinta alam lebih on time buat shalat di perkemahan. Entah dengan cara apa Micky membuat puluhan anak-anak yang kebanyakan dilabel urakan itu untuk shalat berjamaah, tepat waktu lagi.

Dari kesuksesannya itulah akhirnya aku minta Micky membimbing Tommi. Paling ga’ berbagi cara fikir yang bisa memancing Tommi untuk mengenal apa yang kini sangat aku cintai, Islam.

Kulihat apa yang diusahakan Micky cukup berhasil. Ia sukses mengajak Tommi dijam istirahat untuk ikut shalat dhuha. Yah...terbilang anak gank, jika satu berbuat, yang lain ikut kena imbasnya. Akhirnya semua anak-anak ganknya juga ikut dhuha bersama anak-anak ROHIS yang menyambut hangat kedatangan mereka.

Terakhir kulihat, Tommi sedang sibuk menyetorkan beberapa ayat pada Micky. Micky memang bisa diandalkan untuk tugas berat ini. Mungkin karena itu pula yang membuatnya terpilih menjadi orang yang diselipkan keekskul yang dianggap cukup keras dan urakan.

Aku mulai berharap Tuhan terus menjaga hatiku. Membiarkan ia tetap tenang damai hanya mencintai sesuatu karena-Nya. Aku hanya ga’ ingin berharap lebih jauh, karena nikmat-nikmat yang diturunkan-Nya sampai detik ini saja belum bisa kuutarakan rasa bahagia dan syukurku.

Nikmat-Mu yang manakah, kan kudustai,Ar-Rahman.

6 Juni 2005

3 November 2007


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda