Mozaik Love and Life of Dreamers

Kita cuma butuh satu cinta untuk membuat kita memiliki cinta-cinta yang lain......... Cinta itu adalah cinta Ilahi........

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Bukittinggi _ to _ Jakarta Selatan, Sumatera Barat _ Jakarta, Indonesia

Mahasiswa Program Studi Psikologi Univeritas Paramadina ini kini sedang mengenyam pendidikannya di semester 4. Memiliki keinginan untuk memahami dan mengikuti jejak para pemprakarsa psikologi islam di Indonesia. Untuk saat ini masih berupaya berkontribusi lewat blog. Semoga ke depannya bisa berperan lebih aktif.

Kamis, 03 Juli 2008

Cerpen........... : Satu Cinta

Bukan salahku kalau akhirnya aku harus jatuh cinta pada Kak Ari. Orang yang selama ini selalu melindungiku dari anak-anak nakal kompleks yang tak kenal ampun kalau malak bocah-bocah seumuranku. Mengakui aku sebagai adiknya dan menghiburku setiap saat. Bukan salahku kalau kami akhirnya bertemu di kompleks ini dan saling berbagi.

Dari kecil aku selalu berlindung padanya. Berharap bantuan setiap kali masalah menghampiriku. Entah kenapa ia selalu bisa menenangkanku. Memberiku solusi dan menentramkan fikiranku. Membuatku terpingkal-pingkal mendengarkan cerita-cerita konyolnya.

Dia kelihatan lebih tegar dariku. Padahal kami sama-sama korban broken home. Ibunya tak pernah pulang dalam keadaan sadar. Ia sangat hobi mabuk. Ayahnya? Yah...sama saja tak punya ayah, begitu katanya. Aku masih sedikit lebih beruntung karena mama dan papa masih tinggal serumah, walaupun harus selalu bertengkar. Kadang hanya masalah sepele yang terus dibesar-besarkan.

“Nic, harusnya loe cari aja cowok laen. Ga’ harus si Ari itu kan? Inget Nic, cowok di dunia ini ga’ cuma dia. Di sekolah aja banyak yang ngaku naksir sama loe. Kenapa ga’ loe coba aja jadian sama salah satu dari mereka. Sekarang loe coba pikir, apa jarak masih bisa memaklumi hubungan dan perasaan loe itu?” Dee memecahkan lamunanku.

Dia teman sekolahku. Kami berkenalan saat harus duduk semeja. Padahal awalnya aku tak begitu mengenalnya.

“Gw cuma pengen narok satu nama di hati gw dari awal. Dan ga’ boleh ada yang bikin gw goyah untuk setia. Dia cinta pertama gw Dee. Gw ga’ bisa ngelupain dia Dee,” hampir saja aku menangis mengucapkan kata-kata itu.

Entah kenapa aku ga’ bisa melupakan Kak Ari, apalagi semenjak ia pindah sekolah 1 tahun yang lalu. Aku selalu merindukannya. Saat itu ia memilih untuk pindah ke pondok pesantren seperti saran kakeknya. Sekolah yang cukup terkenal di kampung halamannya.

Mungkin ini juga salahku yang terlanjur mengharapkannya. Bahkan untuk meraihnya, kini aku gamang. Tapi ia mulai bersarang dihatiku. Bahwa namanya kini mengikat perasaanku.

*

“Hiks...hiks... .”

Nici kecil menangis sesegukan di balik pagar rumahnya.

“Nic, kamu ga’ apa-apa kan? Kok nangis? ” begitulah Kak Ari selalu menyapaku setiap kali ia mendapatiku menangis. Halus dan penuh kasih kata-kata itu keluar.

Aku bahkan merasa, kalau dia lebih cocok ada diposisi kakak kandungku, dibandingkan Kak Dody yang selalu marah-marah setiap hari dan pulang tengah malam membawa teman-temannya yang urakan. Lebih buruknya. Ia selalu saja bertingkah kasar padaku. Seperti pada orang lain yang bukan saudaranya saja.

“Udah jangan nangis lagi. Mendingan kamu ikut kakak ke lapangan basket kompleks sebelah. ”

Spontan isakanku mulai berhenti. Bagaimana tidak. Aku sangat menyukai basket. Dan olahraga itulah selalu membuatku melupakan masalah-masalahku.

“Kamu kakak boncengin. ”

Siapa yang harus kusalahkan saat Kak Ari begitu baik padaku. Apa itu hal yang salah, sehingga akhirnya aku merasakan perasaan ini. Awalnya aku selalu menekankan bahwa ini hanya cinta monyet anak-anak yang terlibat moment bermain bersama dimasa kecil yang menyenangkan. Tapi sosok itu selalu mengiriku hingga saat ini.

10 tahun hidup sekompleks cukup buatku untuk mengenalnya lebih dalam. Aku mengenal Kak Ari sejak umur 5 tahun. Umurnya hanya terpaut satu tahun denganku. Dan keakraban selama itu kini terpisahkan jarak.

Kesetiaan. Hanya itu yang masih tersisa untuk menantinya. Satu alasan yang membuatku kuat. Kesetiaan membuatku tak kuasa menerima orang lain selain dia dalam keseharianku.

Sejak ia nyantri, kami kehilangan kontak. Entah bagaimana keadaannya disana. Apa dia masih ingat padaku? Apa dia masih seperti dulu? Beribu pertanyaan hadir didalam benakku.

Aku Nici. Gadis Broken Home yang selalu menanti sobat kecilku.

*

Ga’ salah lagi. Saat pulang les aku melihat Kak Ari di depan rumahnya. Aku benar-benar melihatnya. Dia berubah. Hanya itu yang bisa kusimpulkan, saat aku menyapanya dan ia hanya tersenyum tipis tertunduk, memalingkan wajahnya dari tatapanku yang berharap menemukan senyum manis yang menentramkan seperti dulu.

“Sekarang apa yang loe tunggu Nic. Kak Ari itu udah ada di depan mata. Kenapa loe ga’ coba ngutarain isi hati loe? Biar loe tenang dan gw ada alasan buat nolak cowok-cowok yang pengen dicomblangin sama loe,” ujar Dee saat kuceritakan Tentang kepulangan Kak Ari.

Diam-diam aku membenarkan ucapan Dee. Tapi apa Kak Ari akan menerimanya?

“Semuanya tergantung loe,” tambah Dee bersemangat. ”Kalo loe ga’ mulai ngutarain perasaan loe, Kak Ari ga’ bakalan pernah tahu yang sebenarnya. ”

Aku benar-benar sudah tersihir dengan perasaanku. Seharusnya aku tak melakukan hal bodoh dan norak ini.

Sore itu dengan alasan mengatarkan kue dari mama aku berkunjung ke rumah Kak Ari. Wajahnya semakin teduh dan bersinar saat kupandangi lekat. Aku bahkan sampai tak sadar kalau dari tadi ia menanyakan kabar ortuku.

“Nic, kamu ga’ apa-apa kan? ” ujar Kak Ari kembali menyapaku untuk yang kesekian kalinya.

Aku tersentak kaget. Dan spontan aku tersenyum tipis. Entah apa yang harus aku ucapkan saat itu. Bibirku kelu. Diam seribu bahasa. Kenapa aku segrogi ini? Padahal waktu kecil dulu kami begitu dekat. Bahkan sangat akrab.

“Kak, mama titip kue buat tante April, ” akhirnya kata itu keluar juga dari mulut mungilku.

“Oh..., salam balik ya buat mamamu. Sayang sekali, mama kakak lagi di Semarang. ” Begitu kira-kira jawaban Kak Ari yang kudengar tidak begitu jelas.

Ayo Nic. Bilang! Kapan lagi loe punya kesempatan untuk ngungkapin perasaan loe ini. Keburu dia balik. Hatiku kembali berceloteh riang.

“Nic, kamu ga’ apa-apa kan ? Dari tadi kok bengong aja? ”pertanyaan Kak Ari berikutnya mulai memberikanku harapan.

Aku menggeleng cepat.

Tapi ada satu hal yang berubah pada cowok itu. Dulu ia selalu menatapku lekat setiap berbicara. Tapi coba lihat sekarang. Jangankan untuk menatapku, duduk berdekatan saja ia sudah mulai jaga jarak. Apa benar ia jaga jarak dan jaga pandangan padaku? Entahlah... .

“Kak ada yang ingin aku bilang, ” akhirnya kata pembuka yang cocok itu kutemukan, walaupun kedengarnnya rada kaku.

“Ngomong aja, ” suara Kak Ari masih terdengar datar dan berwibawa.

“Sebenarnya... . ”

Suaraku terputus. Kupalingkan wajahku dari hadapan Kak Ari karena aku tahu hanya ada 2 kemungkinan yang bakal terjadi nanti. Ya atau tidak.

“Sebenarnya apa Nic? Kok ragu-ragu gitu? ”

“Sebenarnya....”

Ucapanku berikutnya masih tak berarti. Lakukan Nic. Lakukan! hatiku mulai menggerutu karena melihat tingkahku yang salah.

“Sebenarnya aku mau buru-buru pulang Kak. ”

Lo...kok.

Ah...aku mendesah pelan. Aku ga’ bisa mengutarakannya. Berat.

“Oh...ya udah. Makasih sekali lagi ya buat kuenya. ”

Kata terakhir Kak Ari tadi, rasanya ikut menertawai seorang Nici yang benar-benar tak bernyali. Aku ga’ bernyali.

*

Kembali kurobek lembaran ke 11 kertas surat yang dari tadi kutulisi ngawur.

Bagaimana bisa aku berfikir untuk mengutarakan isi hatiku ini lewat surat. Surat cinta petama buatku.

“Coba-coba kan boleh Nic. Siapa tahu Kak Ari itu nerima loe, ” suara Dee masih terngiang dalam benakku.

Akhirnya dengan segala cara dan sekuat tenaga juga dengan bantuan segudang kamus gombal dan kata-kata cinta aku berhasil menulis surat sakti itu. Tapi belum menemukan cara untuk mengirimkannya ke Kak Ari. Lewat Dee atau... .

Aku kembali gentar. Ternyata jalan untuk menyatukan kami sangat penuh tantangan. Bagaimana tidak, aku ga’ bisa mengungkapkannya langsung, jarak juga memisahkan kami. Ditambah surat cinta yang tak pernah akan sampai pada tujuannya. Dan mungkin kami diciptakan emang bukan untuk bersatu. Hanya teman masa kecilku. Sosok pahlawan hari-hariku.

Selamat tinggal Kak Ari.

Surat itu akhirnya kulempar ke tong sampah setelah kurobek berkeping-keping.

*

Setahun sudah aku berjilbab. Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak melibatkan bayangan Kak Ari dalam kehidupanku. Aku juga memilih untuk menyibukkan diri dalam berbagai acara dan organisasi di sekolah. Ini puncak karier bagi siswa-siswi SMA. Kelas XI memang sangat menyenangkan. Alhamdulillah, kini aku dapat berbagai kepercayaan dibeberapa bidang diorganisasi tersebut, terutama bidang dakwah dan mading sekolah.

Aku pun mulai bisa melupakan Kak Ari. Mimpi masa remajaku.

Hidup ini rasanya begitu cepat berjalan. Aku ga’ peduli lagi apa Kak Ari sudah menyelesaikan studinya atau belum. Apa Kak Ari merindukanku atau tidak? Apa Kak Ari juga punya perasaan yang sama denganku atau tidak? Ga’ satupun pertanyaan itu muncul dibenakku. Ga’ pernah lagi. Aku benar-benar telah melupakannya.

*

19 tahun umurku... .

Aku tahu mama dan papa masih sering bertengkar. Walaupun kadang tanpa sepengetahuanku. Tapi suasana diam dan saling ga’ berteguran saat sarapan cukup menceritakan semuanya. Entahlah... aku kadang berfikir, kenapa mereka ga’ bercerai saja. Mungkin itu akan lebih baik. Aku pernah membayangkannya. Suasana rumah pasti akan jauh lebih baik.

Eh... mungkin karena rasa itu. Mereka sangat menyayangi satu sama lain. Terbukti dari usia pernikahan papa dan mama yang masuk hitungan 25 tahun. Apalah itu, walaupun selalu bertengkar dipenghujung hari. Mereka masih nyaman dengan kebersaman itu hingga tak terpikirkan untuk berpisah. Kerab bertengkar tapi mungkin jauh di dasar hati masing-masing saling mencintai. Ikatan itu kurasakan lebih kuat saat papa menenangkan mama dan menghapus air mata mama diacara wisuda Kak Dody yang tak pernah terbayangkan seisi rumah. Kami menebak kakak urakanku itu hanya akan tamat SMA dengan nilai pas-pasan. Itu sebelum ia terlibat narkoba dan harus menjalani terapi. Setelah itu ia benar-benar berubah. Dan mama sangat terharu melihat putra semata wayangnya dibalut pakaian wisuda menjemput gelar Sarjana Psikologi.

Tiba-tiba aku teringat Kak Ari. Jika kami bisa bersatu tentu akan sangat indah. Tapi ga’ mungkin. Sosok itu sudah kucoba untuk lupakan. Aku ga’ ingin terus mengintipinya dari jendela kamarku saja. Aku ga’ ingin dia saja yang menguasai hatiku. Aku ga’ mau. Aku ga’ mau suatu hari ia mengetahui caraku mencintanya dengan diam. Sudah cukup selama ini. Aku ga’ ingin kecewa. Aku takut ga’ kuat. Biar aku patah hati lebih awal dari pada harus kehilangan 2 hal. Teman masa kecilku dan cinta pertamaku.

“Nic, ada tamu nih. Turun sayang, ” teriak mama dari lantai bawah.

Spontan aku menutup tirai jendela kamar dan turun ke lantai bawah.

“Siapa? ” belum sempat aku bertanya pada mama saat debar di dadaku tiba-tiba berpacu kencang mengontrol penglihatanku.

Kak Ari, dan mamanya, Tante April duduk di ruang tamu rumahku bersama mama.

“Sini Nic! ” perintah mama membuyarkan lamunanku akibat kaget melihat kehadiran kedua orang yang tak biasanya berkunjung itu.

Aku bahkan lebih syok saat tiba-tiba Tante April menyambut kehadiranku dengan wajah sumringah. Lihat, wanita yang sangat kukenal hobi mabuk itu, kini berjilbab. Sepertiku. Wajahnya jauh lebih berseri dari biasanya. Sepanjang keindahan yang terus mereka abadikan untuk menjadi indah. Mereka seperti melepaskan sebuah beban yang berat.

Akhirnya aku duduk bersama mereka. Walaupun sebenarnya aku sangat gerogi. Mereka sukses membuat jantungku berdebar kencang. Seorang wanita berwajah teduh dan cowok yang menemani masa kecilku. Mereka disini, dihadapanku.

“Nic, apa kedatangan tante mengganggu? Kamu lagi ga’ ada acara kan? ” tanya Tante April sungkan.

“Ga’ tante, kebetulan hari ini aku ga’ ada jadwal kegiatan. Sengaja kukosongkan untuk istirahat, ” kilahku cepat.

Aku berharap tak seorang pun menyadari aku yang saat ini sangat ga’ percaya dengan keadaan.

“Mungkin kedatangan tante mengagetkanmu. Tapi ini permintaan Ari. ”

DEG... .

Tenang Nic. Bukan apa-apa, jangan membuat hatimu jadi terus bergantung pada nama dan orang itu. Kau telah berjanji untuk melupakan rasa itu. Membiarkannya jadi bagian masa lalumu saja. Berhentilah membuat dirimu sendiri tersiksa setiap kali mendengar namanya dan melihat wajahnya, bisikan itu seolah-olah muncul dari hati terdalamku. Belajar untuk mengikhlaskan masa kecil yang manis.

“Awalnya tante ga’ mau mampir dulu ke sini. Tapi setelah dibujuk Ari tante mampir juga. Jujur saja, rasanya tante malu sama kamu Nic. Dari dulu kamu kan tahu betul hobi tante. Mabuk, berkelahi,dan hal memalukan yang lainnya. Tapi setelah Ari mondok, tante terpancing untuk belajar agama lebih banyak. Ternyata selama ini bukan kehidupan semacam itu yang tante harapkan. Makanya, hari ini tante mau pamitan sama kamu dan mamamu buat pindah ke kampung halaman tante. Di sana kehidupannya lebih agamis, dan Insya Allah akan sangat tante butuhkan untuk melupakan semua yang telah terjadi selama ini, ” terang Tante April panjang lebar.

“Lalu Kak Ari? ” tanyaku tak sadar telah menyebut namanya.

“Oh... , aku akan menemani mama disana, ” jawab Kak Ari langsung.

Duh... kok rasanya tiba-tiba dadaku sesak banget dengar hal ini. Padahal selama ini aku kan sudah berusaha tidak mengembalikan Kak Ari ke dalam memoriku. Aku bahkan hampir berhasil.

“Selain itu kedatangan saya kesini Mbak Lily, saya sekeluarga ingin minta maaf yang sebesar-besarnya jika selama keluarga kami bertetangga dengan Mbak Lily ada kesalahan, ” tambah Tante April.

“Ya..., sama-sama lah mbak. Saya juga minta maaf. Sering bikin salah yang sengaja atau yang ga’ disengaja kekeluarga mbak, ” balas mama jelas tulus banget.

“Sebenarnya ini sudah lama saya harapkan. Tapi belum kesampaian juga mbak. Mbak kan tahu bagaimana keadaan keluarga saya selama ini. Meski pun yah...bisa dikatakan ga’ terlalu harmonis namun saya masih lebih beruntung dari puluhan keluarga yang berakhir tragis, ” aku melihat kristal-kristal bening seperti tertahan ingin keluar dari sudut mata Tante April.

Beliau kehilangan kebahagiaannya selama ini mungkin. Kebahagiaan mempertahankan rumah tangganya.

“Kita memang kadang diuji dengan sangat kuat mbak. Tapi yakinlah kita mampu melaluinya, ” semangat mama..

“Karena itulah saya ingin mbak percaya bahwa keluarga kami ga’ sekasar dan seburuk cerita para tetangga. ”

Mama mengangguk tersenyum.

“Mbak, biarkanlah saya meminta Nici untuk mendampingi Ari. Saya yakin Ari akan berlaku baik padanya. ”

Akhirnya inti dari kata-kata itu ku mengerti juga. Rasanya aku ga’ percaya.

Ya Tuhan. Hal ini yang kuharapkan selama ini. Tapi kenapa hatiku tak bersorak bahagia? Kenapa tiba-tiba aku merasa malu? Apa Kak Ari pernah memergokiku mengintipinya dari jendela kamarku lalu membalasnya dengan hal ini? Ah... bukan-bukan. Tapi... .

“Nic. Aku serius, ” ujar Kak Ari saat menyadari aku terlihat tak percaya dengan apa yang diucapkan mamanya.

Uh...cukup. Apa ini yang Tuhan hadiahkan untuk usahaku bersabar mengikhlaskan cinta yang belum pantas untukku miliki.

“Tapi aku masih tahun ke-2 kuliah di jurusanku.Apa tidak terlalu cepat?” kilahku kali ini memancing senyum diwajah Kak Ari.

“Justru karena itu. Aku takut ada orang lain yang lebih dulu, meminangmu. Kamu kan aktifis dakwah. Dan kebanyakan aktivis kukira menyukai nikah dini. Lebih baik bertindak cepatkan, ” jawab Kak Ari sukses membuat mama dan Tante April tertawa.

Akukan jadi malu.

Ya Allah..., hari ini aku baru berani berharap padaMu. Ternyata satu cinta cukup bagiku untuk merasa sangat bahagia. Cinta-Mu mengajakku untuk memiliki lebih banyak kasih dan tebaran cinta yang lain dari hamba-hambaMu. Ya Allah semoga ia jadi satu cinta yang menjembataniku dengan kasihMu. Selamanya di dunia dan akhirat.Aamiin.

11 November 2007

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda